Breaking News

ESAI JURNALISTIK| Media di Persimpangan: Ketika Kontrol Sosial Abaikan Marwah Jurnalistik

Oleh: Agusnawan Iskandar

Apa jadinya sebuah bangsa ketika media kehilangan kompas moralnya?
Apa jadinya publik ketika berita bukan lagi jendela kebenaran, tetapi kaca benggala yang memantulkan bayangan yang telah direkayasa?
Dan apa jadinya demokrasi ketika fungsi kontrol sosial abaikan marwah jurnalistik, dijalankan bukan untuk mencerahkan, melainkan untuk menggertak?

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak lagi bersifat filosofis.
Mereka kini berdiri di depan pintu kita, mengetuk dengan keras.

Untuk itu, sebagai penulis, saya akan paparkan sekelumit isi alam pikiran pada Esai Jurnalistik ini

Ketika Fakta Diredupkan Demi Sensasi

Bukankah fakta seharusnya menjadi fondasi jurnalisme?
Lantas mengapa kini kita sering melihat berita yang lebih sibuk berlari daripada berpikir?
Lebih ingin menjadi yang pertama daripada menjadi yang benar?

Fakta dibiarkan mengantre, sementara judul sensasional langsung didorong ke depan publik, seakan keakuratan hanya sekadar hiasan. Padahal sekali media tergelincir dalam ketidakakuratan, ia bukan hanya jatuh, ia menyeret kepercayaan publik ikut runtuh.

Keberimbangan: Prinsip yang Sering Dipuja, Jarang Dipraktikkan

Bukankah keberimbangan adalah jantung etika jurnalistik?
Lalu mengapa banyak pemberitaan terdengar seperti monolog panjang yang memuja satu pihak dan membungkam pihak lain?

Sering kali, media bertanya bukan untuk mendengar, melainkan untuk memenuhi formalitas.
Sering kali, hak jawab diberikan bukan sebagai hak, melainkan sebagai hiasan.

Dan ketika keberimbangan hanya menjadi slogan, berita berubah menjadi dakwaan sepihak tanpa ruang pembelaan.

Independensi: Kata yang Mulia, Praktik yang Langka

Semua media mengaku independen.
Tetapi independen dari siapa?
Dari kepentingan politik? Modal? Tekanan? Atau justru independen dari nurani sendiri?

Ketika garis redaksi disetir oleh kepentingan terselubung, berita berhenti menjadi cermin realitas.
Ia berubah menjadi pengeras suara.
Yang disuarakan bukan kebenaran, tetapi kepentingan.

Kontrol Sosial atau Perang Melukai?

Apakah fungsi kontrol sosial harus dijalankan dengan itikad buruk?
Haruskah kritik dikemas dengan nada mencemooh?
Haruskah koreksi berubah menjadi eksekusi karakter?

Jika tujuan pemberitaan adalah untuk menjatuhkan, menghina, atau membakar, apakah itu masih dapat disebut kontrol sosial?
Atau justru penyalahgunaan kekuasaan yang lebih berbahaya daripada yang diberitakan?

Privasi yang Dipreteli Atas Nama Publik

Kita sering mendengar alasan klasik: “Publik berhak tahu.”
Benarkah?
Publik berhak tahu apa yang perlu untuk kepentingan bersama, bukan segala hal yang memuaskan hasrat mengintip.

Ketika privasi seseorang dicabik-cabik demi klik, bukankah itu kekerasan?
Dan bukankah media seharusnya menjadi pelindung martabat manusia, bukan pemangsa celah hidup pribadinya?

Ralat yang Dianggap Aib

Mengapa begitu sulit bagi sebagian media untuk berkata sederhana: “Kami salah.”
Apakah kerendahan hati kini dianggap kelemahan?

Padahal mengoreksi berita bukan bentuk kegagalan, melainkan pembuktian bahwa media masih memiliki integritas.
Media yang tidak mau mengakui kekeliruan bukan hanya sombong, ia juga berbahaya.

Bahasa yang Menyulut Bara

Kata-kata bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa menjadi bara.
Ketika media memilih kata yang menghasut, membesar-besarkan, atau memelintir, ia sedang menyalakan api yang bahkan ia sendiri tidak mampu padamkan.

Bukankah tugas media adalah menenangkan, menuntun, menjelaskan?
Bukan memprovokasi di balik dalih “sekadar pemberitaan”?

Saatnya Media Menatap Cermin

Media boleh mengkritik siapa pun, tetapi siapa yang mengkritik media?
Media boleh mengawasi kekuasaan, tetapi siapa yang mengawasi media?

Fungsi kontrol sosial bukanlah hak istimewa, namun merupakan amanah.
Amanah yang hanya dapat dijalankan oleh mereka yang memegang teguh:

  • kebenaran,
  • keberimbangan,
  • independensi,
  • itikad baik,
  • penghormatan privasi,
  • transparansi,
  • dan bahasa yang bermartabat.

Jika prinsip-prinsip itu ditinggalkan, maka media bukan lagi pilar demokrasi.
Ia hanya menjadi pengeras suara yang memekakkan telinga tanpa membawa pencerahan.

Dan penulis berani katakan, "ketika media kehilangan akalnya, publik akan kehilangan arah".***

________________

Penulis adalah Wartawan Portal Media Online SWARA INDEPENDEN

Wartawan sejak tahun 1998...

Baca Juga

0 Komentar

descriptivetext
descriptivetext
descriptivetext
© Copyright 2022 - SWARA INDEPENDEN