Breaking News

Fakta Mutakhir: Bilqis, si Mungil dari Makassar Diculik dan Dijual Empat Kali Hingga Jambi, Sosok Lina Masih Misterius

Ipda Nasrullah dan Ipda Supriadi Gaffar  saat menghadiri wawancara Podcast Curhat Bang Deny Sumrgo. (Foto:Ist/SWIN)

MAKASSAR, SWARAINDEPENDEN.COM— Di balik senyum kecil Bilqis Ramdhani (4) yang kini kembali berada dalam pelukan keluarganya, tersimpan perjalanan panjang yang penuh luka dan ketidakpastian. Balita mungil itu, yang hilang saat ikut berolahraga bersama orang tuanya di Makassar, ternyata melewati rantai perpindahan tangan yang mencengangkan sebelum akhirnya ditemukan di Jambi.

Ini bukan sekadar kasus penculikan. Ini adalah potret buram dari jaringan perdagangan orang yang memperlakukan seorang anak sebagai komoditas, diperjualbelikan dari satu pelaku ke pelaku lainnya dengan nilai yang terus melonjak.

Pagi itu, 2 November, semuanya tampak biasa. Bilqis mengikuti kedua orang tuanya berolahraga di Taman Paku Sayang, Jalan AP Pettarani, Makassar. Keramaian taman yang biasanya terasa aman justru menjadi titik awal lenyapnya Bilqis.

Dalam hitungan menit, sang bunda yang semula memandang Bilqis bermain kehilangan jejak. Kepanikan segera merambat ke seluruh kota. Pencarian dilakukan siang dan malam, namun tak ada tanda keberadaan sang balita.

Tak ada yang menyangka, saat Makassar masih sibuk bertanya-tanya, Bilqis sudah jauh dibawa ke luar pulau—menyeberangi langit dengan pesawat komersial memakai identitas palsu.

Selama penyidikan, polisi mengungkap gambaran yang sulit diterima nalar: Bilqis tidak hanya diculik, ia diperdagangkan.

Para pelaku memperjualbelikan anak kecil itu sebanyak empat kali, setiap kali berpindah tangan, harga yang dipasang semakin melonjak.

Transaksi pertama: Rp5 juta
Pelaku awal, Sri Yuliana, warga Makassar, menjual ke Nadia Hurti, sempat berkilah hanya menerima Rp3 juta sebelum akhirnya mengakui nilai sebenarnya, Rp5 Juta. 

Transaksi kedua: Rp30 juta
Nadia Hurti, warga Sukoharjo, Jawa Tengah, pelaku yang menjemput Bilqis di Makassar, melakukan transaksi di Jambi, dengan pasangan Meryana dan Adefrianto, sebesar Rp30Juta, yang awalnya mengaku hanya Rp15 juta.

Transaksi ketiga: Rp80 juta
Meryana dan Ade, merupakan tangan ketiga yang diamankan di Kerinci Jambi, mengaku telah menjual ke salah seorang perempuan bernama Lina. Harga melesat tajam, seiring korban semakin jauh dari Makassar, nilainya RpJuta.

Transaksi keempat: Rp85 juta
Transakai terakhir inilah dilakukan oleh Lina, perempuan yang menebus Rp80Juta dari Meryana dan Adefriato, lalu menjualnya lagi ke Suku Anak Dalam sebesar Rp85Juta. Inilah transaksi terakhir hingga Bilqis ditemukan di dalam perkampungan Suku Kubu, atau Suku Anak Dalam.

Dalam setiap perpindahan itu, Bilqis hanyalah seorang anak kecil yang mungkin tidak mengerti mengapa ia berada di rumah yang berbeda-beda. Tidak mengerti kenapa wajah-wajah asing silih berganti menjemputnya. Tidak mengerti mengapa ia tidak bisa pulang.

Upaya polisi akhirnya membuahkan hasil. Berdasarkan penelusuran jaringan antarprovinsi, korban ditemukan di sebuah pemukiman di Jambi. Saat itu, ia berada bersama pelaku yang disebut sebagai “pembeli terakhir”.

Dari penuturan polisi pada podcast Curhat Bang Deni Sumargo, saat diketahui keberadaan Bilqis. Petugas tidak langsung menerobos ke sasaran. 4 polisi dari Makassar, diback up petugas kepolisian dari daerah Jambi dan Kabupaten Merangin. 

Misi mereka juga ditemani 2 orang dari Dinas Sosial Provinsi Jambi. Keduanya lalu bertindak sebagai negosiator yang mendekati Suku Anak Dalam yang menguasai Bilqis. Suku Anak Dalam tidak mau bertemu dengan anggota Polisi dari Makassar. 

Negosiasi panjang dan menegangkan yang sempat memancing emosi salah seorang polisi dari Makassar. Namun karena sadar akan resiko yang akan mereka, maka emosi bisa ditahan.

"Andai yang dicuri adalah mobil atau motor, bisa saja kami menyerang, tapi karena ini manusia, kami tidak mau gegabah."

Begitulah yang ada dalam benak para pahlawan ini, sebagaimana diungkapkan Ipda Supriadi Gaffar, saat diwawancarai oleh Demi Sumargo.

Setelah negosiasi berhasil, Bilqis pun dibawa keluar oleh kedua negositor, Nurul dan Fajrul dari Dinas Sosial Provinsi Jambi.

Ketika digendong oleh tim penyelamat, Bilqis tetap tenang, seolah perjalanan panjang itu baru sebuah petualangan yang tidak ia pahami. Tapi bagi orang dewasa yang menyaksikan, pemandangan itu memukul dada.

Kembalinya Bilqis ke Makassar menjadi momen yang membuat banyak mata berkaca-kaca. Orang tuanya menyambutnya dengan pelukan yang tak dilepas, seakan takut kehilangannya lagi.

“Anak saya kembali… itu saja sudah cukup,” ujar Dwi Nurmas, sang ayah dengan suara bergetar.

Kini, Bilqis kembali berada di rumah—tempat yang semestinya ia tidak pernah tinggalkan. Namun kisahnya meninggalkan jejak yang lebih besar: bahwa perdagangan orang tidak lagi menunggu batas geografis, tidak mengenal usia, dan bisa merenggut siapa saja dalam hitungan menit.

Di tengah hiruk pikuk kota, kisah Bilqis menjadi pengingat bahwa di balik setiap senyum anak kecil, ada dunia yang harus diperjuangkan untuk tetap aman bagi mereka.

Sosok Lina masih Misterius

Polisi masih terus menelusuri jaringan pelaku, memeriksa aliran uang, dan menyusun potongan-potongan kasus yang melibatkan sindikat diduga lintas provinsi.

Termasuk sosok Lina, hingga tulisan ini ditayangkan, belum ada konfirmasi resmi tentang sosok Lina yang sempat disebut-sebut namamya beberapa waktu lalu.

Akankah Lina jadi tersangka? Masih adakah tersangka lain, nantikan terus...

(AgusIkandar)

Baca Juga

0 Komentar

descriptivetext
descriptivetext
descriptivetext
© Copyright 2022 - SWARA INDEPENDEN