Breaking News

Kisah Ibu Nurul: Pahlawan Sunyi di Balik Penyelamatan Bilqis di Hutan Jambi

Sang Negosiator, Ibu Nurul, Pegawai Dinas Sosial Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. (Foto: Ist/SWIN)

Keberanian dan empati seorang perempuan menjadi kunci dalam misi penyelamatan Bilqis, balita Makassar yang ditemukan di tengah hutan Jambi.

SWARAINDEPENDEN.COM-- Tidak semua pahlawan mengenakan seragam atau tampil di layar kaca. Sebagian dari mereka bekerja dalam diam, dengan hati yang tulus dan keberanian tanpa pamrih. Salah satunya adalah Ibu Nurul, sosok perempuan luar biasa yang berperan penting dalam penyelamatan Bilqis Ramdhani (4), balita asal Makassar yang sempat menghilang selama sepekan dan akhirnya ditemukan di pedalaman Jambi.

Ketika malam menutup hutan Jambi dengan gelap dan lembab, Ibu Nurul ikut bersama tim kepolisian menembus rimba. Tanpa ragu, ia berjalan di antara semak dan rawa, menemani aparat yang berjuang mencari keberadaan Bilqis.

“Beliau tidak gentar sedikit pun. Ibu Nurul masuk ke dalam hutan bersama tim kami, berbicara langsung dengan masyarakat adat yang membawa Bilqis,” ujar salah satu anggota tim kepolisian yang terlibat dalam operasi tersebut.

Jembatan Komunikasi dengan Suku Anak Dalam

Dalam situasi tegang, polisi memerlukan sosok yang mampu membangun komunikasi dengan Suku Anak Dalam (SAD) — kelompok masyarakat adat yang tanpa sadar menjadi bagian dari peristiwa tersebut.
Di sinilah ketenangan dan empati Ibu Nurul menjadi penentu.

Dengan pendekatan yang lembut, ia berdialog langsung dengan warga SAD. Tidak dengan paksaan, melainkan dengan hati dan rasa hormat. Ia mendengarkan dan meyakinkan mereka bahwa Bilqis harus kembali kepada orang tuanya.

Pendekatan itu berhasil. Tidak ada benturan, tidak ada pertikaian. Hanya kehangatan dan keikhlasan yang akhirnya membuka jalan pulangnya Bilqis ke Makassar.

“Beliau adalah jembatan komunikasi yang menenangkan. Keberanian dan keikhlasannya sungguh luar biasa,” tutur seorang saksi di lokasi.

Meski tak disebut dalam konferensi pers atau laporan resmi, banyak pihak menilai Ibu Nurul layak disebut pahlawan.
Ia bukan pejabat, bukan aparat, namun keberaniannya telah menorehkan kisah kemanusiaan yang menggetarkan hati. Ia hanyalah pegawai Dinas Sosial Provinsi Jambi.

“Pahlawan sejati tidak harus berseragam. Kadang mereka hadir dalam bentuk kasih, doa, dan keberanian seorang ibu,” kata seorang warga Makassar yang mengikuti perkembangan kasus Bilqis.

Kini, Bilqis telah kembali ke pelukan orang tuanya. Namun kisah di balik penyelamatannya meninggalkan pelajaran berharga — tentang kekuatan empati, keberanian, dan ketulusan seorang wanita bernama Ibu Nurul.*

(AgusIskandar)

Baca Juga

0 Komentar

descriptivetext
descriptivetext
descriptivetext
© Copyright 2022 - SWARA INDEPENDEN