SOPPENG, SWARAINDEPENDEN.COM--Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Soppeng kembali menegaskan perannya bukan sekadar sebagai penyelenggara teknis pemilu, tetapi sebagai penjaga kesadaran demokrasi. Melalui kegiatan Sosialisasi dan Pendidikan Pemilih Berkelanjutan Tahun 2025, KPU Soppeng secara serius menyasar kelompok strategis: pemilih pemula dari kalangan mahasiswa.
Kegiatan yang digelar di Aula Kampus STAI Al Gazali Soppeng, Kecamatan Lalabata, Senin (15/12/2025), ini menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis bagi generasi muda yang kelak menentukan arah kepemimpinan dan kebijakan publik.
Dalam sambutannya, Ketua Lembaga Penjamin Mutu (LPM) STAI Al Gazali, Erwin Harianto, menyebut kegiatan ini bukan seremoni belaka, melainkan investasi demokrasi jangka panjang.
“Mahasiswa bukan hanya pemilih, mereka adalah agen perubahan. Hak pilih adalah instrumen suci yang menentukan kualitas kepemimpinan dan masa depan kebijakan publik,” tegas Erwin, disambut antusias peserta.
Nada serupa ditegaskan Ketua KPU Kabupaten Soppeng, Risal, yang menyampaikan pesan lugas dan tanpa basa-basi. Menurutnya, pendidikan pemilih harus melahirkan pemilih yang berani berpikir dan menolak manipulasi.
“Pemilih cerdas tidak memilih karena ikut-ikutan, tekanan, atau politik uang. Mereka menimbang rekam jejak, visi, dan integritas calon. Golput bukan sikap netral, tetapi menyerahkan masa depan kepada orang lain,” ujar Risal tajam.
Ia menekankan, partisipasi aktif pemilih pemula merupakan indikator kesehatan demokrasi. “Pemilu berintegritas hanya mungkin lahir dari pemilih yang kritis dan bertanggung jawab,” tambahnya.
Sesi teknis dipandu Haswinardi, Ketua Divisi Teknis Penyelenggaraan KPU Soppeng, yang menekankan pentingnya basis pengetahuan sebelum masuk bilik suara.
“Tanpa pemahaman, suara bisa kehilangan maknanya. Pendidikan pemilih adalah fondasi agar hak pilih tidak disalahgunakan,” katanya.
Puncak refleksi datang dari narasumber utama, A. Mappasessu, Sekretaris KAHMI Soppeng, melalui materi bertajuk “Suara Hari Ini, Masa Depan Bangsa Hari Esok”. Ia mengajak mahasiswa melihat memilih sebagai tindakan moral, bukan rutinitas administratif.
“Memilih bukan sekadar mencoblos. Setiap suara membawa konsekuensi etis dan sejarah. Pemilih pemula harus menjadi benteng moral demokrasi, bukan korban bujuk rayu sesaat,” tegas Mappasessu.
Ia menyoroti tujuh prinsip utama, mulai dari demokrasi sebagai proses kesadaran hingga peneguhan Pancasila dan UUD 1945 sebagai fondasi nilai demokrasi Indonesia.
Diskusi penutup berlangsung hidup dan kritis. Mahasiswa mempertanyakan isu integritas pemilu, bahaya hoaks, hingga peran konkret kampus dalam mengawal demokrasi. Antusiasme ini menjadi sinyal kuat bahwa politik bukan lagi ruang asing bagi pemilih muda.
Kegiatan ini turut dihadiri jajaran komisioner KPU Soppeng, antara lain Lanyala Soewarno, Muh. Hasbi, dan Sitti Rahmawati, bersama staf KPU.
Dengan langkah ini, KPU Soppeng tidak hanya mengajak mahasiswa menggunakan hak pilih, tetapi menantang mereka untuk bertanggung jawab atas masa depan demokrasi itu sendiri.*
(Ist/Redaksi)

0 Komentar