Oleh: Agusnawan Iskandar
Pers Indonesia lahir bukan dari ruang nyaman, melainkan dari rahim perlawanan. Sejak awal abad ke-20, media telah menjadi alat perjuangan bangsa, menyuarakan kemerdekaan, membangun kesadaran kolektif, dan menantang kekuasaan kolonial. Surat kabar seperti Medan Prijaji (1907) menjadi tonggak penting: pers tampil sebagai corong kaum terpelajar pribumi yang menggugat ketidakadilan.
Momentum bersejarah itu kemudian dipertegas pada 9 Februari 1946, saat para wartawan Indonesia berkumpul di Surakarta dan mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Tanggal ini kelak diperingati sebagai Hari Pers Nasional, penanda bahwa pers bukan sekadar industri informasi, melainkan bagian dari perjuangan republik.
Berikut refleksi Pers sejak awal hingga kini:
1. Pers di Masa Revolusi
Pada masa revolusi fisik (1945–1949), wartawan bekerja dalam situasi serba terbatas. Mesin cetak berpindah-pindah, berita diselundupkan, dan nyawa sering menjadi taruhan. Namun semangatnya satu: menjaga api kemerdekaan. Pers menjadi alat propaganda perjuangan, penghubung antarwilayah, sekaligus penyampai kabar kepada dunia bahwa Indonesia berdiri sebagai bangsa merdeka.
Di fase ini, jurnalisme Indonesia dibentuk oleh idealisme: keberpihakan pada rakyat dan negara.
2. Pers di masa Orde Lama dan Orde Baru
Memasuki era Orde Lama hingga Orde Baru, wajah pers berubah drastis. Negara mulai memposisikan media sebagai instrumen stabilitas politik. Pemberedelan menjadi hal lumrah. SIUPP dijadikan alat kontrol. Media yang kritis dicabut izinnya, wartawan diawasi, bahkan dipenjara.
Namun di tengah represi, tetap tumbuh benih keberanian. Media alternatif, pers mahasiswa, dan jaringan wartawan independen menjadi ruang perlawanan sunyi. Tragedi pembredelan Tempo, Editor, dan Detik tahun 1994 menjadi simbol betapa mahalnya harga kebebasan pers saat itu—sekaligus menyulut solidaritas besar di kalangan jurnalis.
3. Pers di masa Reformasi 1998
Reformasi 1998 menjadi titik balik. Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 menjamin kemerdekaan pers dan menghapus sistem perizinan. Media tumbuh pesat. Siapa pun bisa mendirikan perusahaan pers. Kritik terhadap pemerintah tak lagi tabu.
4. Pers memasuki era kebebasan
Namun kebebasan itu datang bersama tantangan baru: komersialisasi, oligarki media, konflik kepentingan, dan banjir informasi. Pers tidak lagi hanya berhadapan dengan negara, tetapi juga dengan pasar dan algoritma.
5. Pers di Era Digital
Hari ini, pers hidup di tengah revolusi digital. Media sosial membuat setiap orang bisa menjadi “wartawan”. Informasi bergerak cepat, tetapi kerap kehilangan kedalaman. Clickbait, disinformasi, dan hoaks menggerus kepercayaan publik.
Di sisi lain, independensi pers juga diuji oleh kepentingan pemilik modal dan kedekatan media dengan kekuasaan politik. Tak sedikit ruang redaksi yang terjebak pada pragmatisme: mengejar trafik, iklan, dan viralitas, sambil mengabaikan prinsip verifikasi.
Padahal, esensi pers bukan sekadar cepat, tetapi benar.
Pers dan Tanggung Jawab Sejarah
Refleksi perjalanan panjang ini mengingatkan kita bahwa pers Indonesia bukan warisan biasa. Ia lahir dari perjuangan, tumbuh dalam tekanan, dan dewasa melalui pengorbanan banyak jurnalis.
Pers memiliki mandat moral:
- Menjadi penjaga akal sehat publik
- Mengawasi kekuasaan
- Membela kepentingan rakyat
- Merawat demokrasi
Lebih dari itu, pers harus terus merawat integritas di tengah godaan amplop, tekanan politik, dan jebakan popularitas instan.
Pers Indonesia hari ini berdiri di persimpangan: antara idealisme dan industri, antara keberanian dan kenyamanan. Sejarah telah menunjukkan bahwa pers yang besar adalah pers yang berani berpihak pada kebenaran, bukan pada kekuasaan.
Sebagaimana dulu para pendahulu mempertaruhkan nyawa demi selembar berita, kini tugas generasi pers hari ini adalah mempertaruhkan kenyamanan demi integritas.
"Karena ketika pers berhenti kritis, demokrasi kehilangan penjaganya. Dan ketika pers kehilangan nurani, republik ini kehilangan suara rakyatnya".
Akhir kata, kami segenap Manajemen dan Redaksi Portal Media Online SWARA INDEPENDEN mengucapkan, "SELAMAT HARI PERS NASIONAL 2026 di Serang Banten.."
"PERS SEHAT, EKONOMI BERDAULAT, BANGSA KUAT".*
~~~~
Penulis adalah Presidium Forum Komunikasi Jurnalis (FKJ), Wartawan sejak awal Reformasi 1998...

0 Komentar