SOPPENG, SWARAINDEPENDEN.COM — Aula Makodim 1423 Soppeng, Senin (16/3/2026), berubah menjadi ruang pertemuan yang lebih hangat dari biasanya. Puluhan wartawan dari berbagai organisasi media duduk berdampingan dengan jajaran TNI dalam sebuah agenda buka puasa bersama yang digelar Komandan Distrik Militer (Dandim) 1423 Soppeng, Letkol Inf. Eko Yulianto.
Namun, lebih dari sekadar agenda buka puasa di bulan Ramadan, pertemuan ini menyimpan pesan yang lebih dalam: membangun kedekatan antara militer dan media di tengah era perang informasi yang semakin terbuka.
Letkol Inf. Eko Yulianto, yang baru tiga bulan bertugas di Soppeng, memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan diri sekaligus membuka ruang komunikasi dengan para jurnalis. Ia mengakui bahwa pertemuan dengan insan pers sebenarnya telah direncanakan sejak awal masa tugasnya, namun baru bisa terlaksana pada Ramadan tahun ini.
“Jangan dilihat tempatnya, tapi lihat kebersamaan dan sinergitas kita di lapangan. Salam kenal rekan-rekan media, mari kita bekerja sama dengan baik,” ujar Eko Yulianto di hadapan para wartawan.
Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi seremonial. Dalam sambutannya, Dandim secara terbuka menyinggung realitas baru dunia informasi, media dan media sosial kini menjadi arena pertarungan opini yang tidak kalah sengit dibanding konflik di lapangan.
Menurutnya, di era digital saat ini, media memiliki pengaruh yang luar biasa dalam membentuk persepsi publik. Bahkan, dalam banyak situasi, perang opini bisa lebih menentukan daripada fakta di lapangan.
Karena itu, ia menilai hubungan yang baik antara TNI dan media menjadi penting agar informasi yang sampai ke masyarakat tidak terdistorsi oleh kepentingan tertentu.
Di sisi lain, pernyataan tersebut juga mencerminkan kesadaran institusi militer bahwa kontrol terhadap narasi publik tidak lagi bisa dilakukan secara sepihak. Media dan ruang digital kini menjadi wilayah yang harus dikelola melalui komunikasi dan kemitraan.
Di hadapan para wartawan, Dandim juga menyinggung soal nasionalisme. Ia mengajak semua pihak untuk terus mencintai Indonesia, negeri yang menurutnya kaya akan sumber daya alam dari Sabang hingga Merauke.
“Selama kami bertugas, kami juga membutuhkan arahan dan masukan dari teman-teman media agar tugas-tugas kami bisa berjalan lebih baik,” katanya.
Acara tersebut dihadiri wartawan dari berbagai organisasi, di antaranya PWI, IWO, JOIN, AJOI, SMSI, serta perwakilan LSM Sidik. Suasana berlangsung santai, diwarnai diskusi ringan, canda, dan percakapan informal antara aparat TNI dan jurnalis.
Di penghujung acara, Letkol Inf. Eko Yulianto juga menyerahkan parcel kepada para wartawan yang hadir sebagai bentuk apresiasi atas hubungan yang telah terjalin.
Di satu sisi, kegiatan seperti ini kerap dipandang sebagai bagian dari tradisi silaturahmi Ramadan antara institusi negara dan insan pers. Namun di sisi lain, pertemuan semacam ini juga mencerminkan dinamika hubungan yang lebih kompleks, bagaimana institusi negara berupaya membangun komunikasi dengan media yang memiliki peran besar dalam membentuk opini publik.
Bagi sebagian wartawan yang hadir, pertemuan tersebut setidaknya membuka ruang dialog yang lebih cair dengan jajaran Kodim 1423 Soppeng, terutama bagi Dandim yang masih relatif baru di wilayah tersebut.
Pertanyaannya kemudian, sejauh mana sinergi itu akan benar-benar terbangun di lapangan, bukan hanya dalam ruang pertemuan yang hangat saat buka puasa, tetapi juga ketika berita-berita kritis mulai menguji hubungan antara media dan kekuasaan.
Ramadan mungkin memberi ruang untuk merajut kebersamaan. Tetapi dalam dunia jurnalistik, kedekatan tidak pernah boleh menghilangkan satu hal yang paling mendasar, sikap kritis.


0 Komentar