Breaking News

Menghormati Tanpa Menghapus

Oleh: H. Ahmad Saransi 

Usulan Ketua Umum Yapentara, Hendra Sudrajat, untuk mengubah nama Masjid Agung Darussalam menjadi Masjid Agung Syekh Abdul Majid Watansoppeng (Tribun Soppeng, 24 Maret 2026)  merupakan gagasan yang lahir dari semangat penghormatan terhadap jasa para ulama dalam menyebarkan Islam di tanah Bugis Soppeng, khususnya sosok Syekh Abdul Majid Tuan Uddungeng. Gagasan ini patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap sejarah keagamaan dan penghargaan kepada tokoh-tokoh yang telah meletakkan fondasi spiritual bagi masyarakat.

Namun demikian, perlu pula dipahami bahwa nama Masjid Agung Darussalam bukan sekadar penamaan biasa. Nama tersebut telah melekat kuat dalam perjalanan sejarah masyarakat Soppeng selama kurang lebih Empat Puluh Tujuh Tahun (dbangun 1979). Ia bukan hanya menjadi identitas fisik sebuah rumah ibadah, tetapi juga simbol perjalanan waktu, kebersamaan umat, dan jejak pengabdian para tokoh terdahulu, termasuk H. Andi Made Alie yang menjadi salah satu perintis pembangunan masjid tersebut.

Oleh karena itu, dalam semangat menjaga keseimbangan antara penghormatan terhadap ulama dan pelestarian nilai sejarah, kiranya bijak jika nama Masjid Agung Darussalam tetap dipertahankan. Sementara itu, nama besar Syekh Abdul Majid Tuan Uddungeng dapat diabadikan pada masjid lain di wilayah Soppeng yang belum memiliki nama permanen, sehingga penghormatan tetap terwujud tanpa menghilangkan nilai historis yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Dengan demikian, dua nilai penting dapat berjalan beriringan: menjaga warisan sejarah sekaligus memuliakan jasa ulama, sebagai bagian dari identitas dan kearifan lokal masyarakat Soppeng.***

Baca Juga

0 Komentar

© Copyright 2022 - SWARA INDEPENDEN