Ada yang terasa janggal setiap bulan Maret. Spanduk-spanduk dan Banner ucapan bertebaran di media sosial, dari berbagai lembaga, bukan hanya swasta tapi lembaga pemerintah pun, “Selamat Hari Jadi Kabupaten Soppeng ke-765”.
Sekilas, tak ada yang salah. Bahkan terdengar megah, seolah sebuah kabupaten telah berdiri selama lebih dari tujuh abad. Tapi justru di situlah masalahnya bermula. Sepele tapi tidak boleh disepelehkan.
Kabupaten Soppeng, jika merujuk pada dasar hukum, baru lahir pada tahun 1957 melalui Undang-Undang Darurat Nomor 4 Tahun 1957. Artinya, usia administratifnya bahkan belum genap satu abad. Lalu dari mana angka 765 itu berasal?
Jawabannya ada pada sejarah yang lebih tua, lebih dalam, dan lebih bermakna: Soppeng sebagai entitas peradaban. Tahun 1261, yang disepakati melalui seminar sejarah, menjadi penanda awal jejak panjang Soppeng sebagai wilayah budaya, sebagai ruang hidup, sebagai identitas.
Di titik ini, garisnya sebenarnya jelas. Yang berusia ratusan tahun adalah Soppeng, bukan Kabupaten Soppeng.
Namun dalam praktiknya, dua hal ini justru kerap dipertukarkan, atau lebih tepatnya, dicampuradukkan.
Barangkali bagi sebagian orang, ini hanya soal redaksi. Hanya soal kata. Tidak perlu dipersoalkan. Tapi sejarah tidak pernah sesederhana itu.
Cara kita menyebut sesuatu adalah cara kita memahami sesuatu. Jangan sampai menyesatkan.
Ketika “Hari Jadi Soppeng” diubah menjadi “Hari Jadi Kabupaten Soppeng”, maka secara perlahan kita sedang menggeser makna. Kita seakan-akan menyatakan bahwa struktur pemerintahan modern yang baru berusia puluhan tahun itu memiliki usia yang sama dengan peradaban yang telah hidup berabad-abad.
Ini bukan sekadar kekeliruan kecil. Ini adalah distorsi. Bisa merusak dan membuat sesat pemahaman generasi kita yang akan datang.
Dan seperti semua distorsi, ia bekerja pelan-pelan. Masuk ke dalam ingatan kolektif, diajarkan ulang, diulang dalam seremoni, dicetak dalam baliho, hingga akhirnya dianggap benar.
Di titik itulah ia menjadi berbahaya. Sebab generasi yang datang setelah kita mungkin tidak lagi mempertanyakan. Mereka akan menerima begitu saja bahwa “Kabupaten Soppeng berusia 765 tahun.” Padahal itu tidak pernah terjadi dalam catatan sejarah mana pun.
Yang lebih ironis, kekeliruan ini justru muncul dalam momen yang seharusnya menjadi ruang penghormatan terhadap sejarah itu sendiri.
Hari jadi seharusnya menjadi titik untuk kembali, mengingat asal-usul, memahami perjalanan, dan merawat identitas. Bukan malah mengaburkannya.
Meluruskan ini bukan berarti mengecilkan makna perayaan. Justru sebaliknya, ini adalah upaya untuk menempatkan sejarah pada tempat yang semestinya.
Bahwa yang kita rayakan setiap bulan Maret adalah lahirnya Soppeng, sebuah entitas budaya dan sejarah yang panjang, bukan lahirnya struktur administratif bernama kabupaten.
Karena itu, ucapan yang tepat bukanlah “Selamat Hari Jadi Kabupaten Soppeng ke-765".
Melainkan cukup sederhana, namun jauh lebih jujur:
"Selamat Hari Jadi Soppeng ke-765"
Sebuah kalimat yang mungkin lebih singkat, tetapi menyimpan penghormatan yang lebih utuh terhadap sejarah.***
*****
Penulis, salah satu anggota Tim Studi Banding "Menelusuri Hari Jadi Soppeng" tahun 1995 yang lalu.
.jpg)
0 Komentar