Soppeng selalu punya cara memikat siapa saja yang datang. Dari perjalanan melewati dataran tinggi, kabut tipis yang menggantung di jalanan pinus, hingga keramahan masyarakatnya yang kental dengan budaya Bugis, daerah ini seolah menyimpan memori masa lalu yang tetap hidup dan enggan tergesa oleh zaman.
Di balik suasananya yang tenang, Soppeng adalah destinasi yang kaya akan kisah. Kisah tentang alam, tentang peradaban tua, dan tentang ruang-ruang wisata yang belum sepenuhnya tersentuh gemuruh modernisasi.
Lejja: Spa Alam di Tengah Hutan
Perjalanan berlanjut ke Wisata Air Panas Lejja, tempat hamparan pepohonan menemani mata air belerang yang dipercaya masyarakat dapat mengobati berbagai keluhan tubuh. Pengunjung datang untuk merendam diri, menenangkan pikiran, dan membiarkan waktu berjalan perlahan tanpa tuntutan.
Di pagi hari, uap air yang mengepul lembut dari permukaan air menciptakan pemandangan seperti lukisan alam, sejuk, sunyi, dan penuh refleksi.
Terapi air panas Lejja, dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, seperti reumatik dan gatal-gatal.
Lejja, sebuah objek wisata alam biasanya menyimpan sejarah dan kisah mistisnya sendiri, begitupun dengan Pemandian Air Panas Lejja.
Dulunya Pemandian Air Panas Lejja hanyalah sumber mata air panas alami biasa, dan dipercayai sumber mata air panasnya berasal dari sebuah pohon tua yang berusia ratusan tahun.
Pemandangan unik yang sering ditemui, hampir di setiap ranting dan dahan pepohonan bergelantungan "ance", batu-batu sekepalan tangan yamg digantung. Benda dipercaya sebagai media bernasar. Jika apa yang diidamkannya dikabulkan Tuhan, maka mereka akan datang lagi di tempat itu untuk melepaskan ikatan apa yang digantungnya.
"Itu bukan perbuatan musyrik, tapi itu hanyalah pengingat bagi kami, jika apa yang kami idamkan bisa tercapai," ujar mereka membantah isu yang dihembuskan orang lain.
Kalong, Sang Penjaga Langit
Di pusat kota, tepat ketika matahari mulai turun pelan, ribuan kelelawar jenis kalong terbang meninggalkan pepohonan yang mereka jadikan rumah selama puluhan tahun. Mereka terbang menghiasi angkasa bah penjaga langit Soppeng.
Bukan rahasia, bukan misteri. Mereka adalah identitas, kebanggaan, dan pelindung alami ekosistem kota.
Bagi wisatawan, menyaksikan langit Soppeng dikaburkan sayap-sayap hitam adalah pengalaman spiritual, pemandangan yang tidak ada duanya di Indonesia.
Hewan yang sejatinya hidup jauh dari hiruk pikuk manusia dan mesin-mesin berjalan, bisa menyatu di tengah pusat peradaban yang ramai. Mereka tak merasa terusik oleh mahluk-mahlum pengusik. Sungguh sesuatu yang unik dari semua tempat di manapun.
Hewan "hallowen" menjadi icon menarik untuk wisatawan berkunjung ke Watansoppeng, jantung kota kecil yang bernama Kabupaten Soppeng.
Citta: Aliran Sungai dan Sisa Peradaban Purba
Tak jauh dari sana, Permandian Alam Citta menawarkan nuansa kesegaran air pegunungan yang jernih, tenang, dan membebaskan. Di sekitarnya, situs peninggalan prasejarah berdiri sebagai bukti bahwa Soppeng telah dihuni sejak masa yang sangat jauh, lebih tua dari sebagian besar peradaban kota modern di Sulawesi.
Citta mengajarkan bahwa wisata bukan hanya hiburan, tetapi perjalanan memahami tempat dan jejak manusianya.
Airnya jernih, muncul di bawah pohon besar dan tua. Mengalir deras yang menghidupi masyarakat Citta dan sekitarnya.
Danau, Perkemahan, dan Ruang Wisata yang Masih Menunggu Dibangun
Dari sekitar danau Ompo yang tenang hingga hamparan ruang terbuka hijau, sekira 1 kilometer dari museum Latemmamala yang dikenal dengan Villa Yuliana, hingga ruang-ruang budaya Bugis yang kaya, Soppeng memiliki puzzle lengkap untuk menjadi destinasi wisata unggulan Sulawesi Selatan.
Danau yang berada di dekat permandian alam Ompo, dulunya menjadi obyek wisat air, kini kering dan menunggu sentuhan kasih pemeritah, agar bisa kembali hidup dengan kegembiraan pengunjungnya, dengan perahu-perahu bebeknya dan restorant di tengah danau.
Yang diperlukan hanya sentuhan perencanaan, penataan, dan visi yang berpihak pada keberlanjutan.
Di sisi yang lain, terdapat lapangan kecil dapat dipoles sebagai tempat wisata perkemahan. Berpotensi untuk dikemas dalam bentuk hutan kota yang asri dan sejuk.
Ompo: Mata Air yang Menyimpan Ingatan
Dan akhirnya, perjalanan membawa kita kembali ke tempat paling bersejarah: Ompo.
Dulu, warga bercerita bahwa air di sini tidak pernah kering.
Kolam alami, permandian rakyat, dan pepohonan rindang menjadikannya jantung wisata air Soppeng.
Anak-anak belajar berenang di sini.
Keluarga menghabiskan hari libur.
Pelancong mampir untuk merasakan kesegaran mata air tua itu.
Namun kini, sumber air Ompo tidak lagi sama.
Debit mata air berkurang.
Daerah sekitar mulai berubah mengikuti geliat pembangunan.
Kolam renang modern, waduk Ompo, lahan perkemahan, dan taman air yang sebelumnya penuh aktivitas kini kehilangan gaungnya.
Tapi Ompo belum selesai.
Ia hanya diam, seakan menunggu waktu yang tepat untuk kembali hidup.
Ompo Reborn: Harapan untuk Sumber Air yang Pernah Abadi
Rencana revitalisasi kawasan wisata Ompo, mulai dari sumber mata air, kolam renang, waduk, jalur trekking, hingga area rekreasi keluarga, kini mulai dibicarakan sebagai program Ompo Reborn.
Sebuah langkah untuk:
- Mengembalikan fungsi mata air sebagai ikon wisata air
- Merawat lanskap alam agar tetap asri
- Mengemas ulang kawasan menjadi destinasi terpadu
- Menghubungkan wisata edukasi, ekowisata, dan wisata keluarga
Harapannya, bukan hanya Ompo yang kembali hidup, tetapi juga seluruh ekosistem pariwisata di sekitarnya.
Karena bagi masyarakat Soppeng, Ompo bukan sekadar tempat pemandian.
Ompo adalah kenangan.
Ompo adalah identitas.
Dan kini, Ompo adalah masa depan.
Soppeng adalah tujuan bukan daerah lintasan.
Dan seperti aliran mata airnya yang pernah abadi, daerah ini terus mengalirkan alasan untuk kembali.*
(Agus Iskandar)

0 Komentar