![]() |
| Talk Show, salah satu mata acara sebagai bagian pendukung dari Pasar Ramadhan Sukses 2026 (Foto: Ist/SWIN) |
SOPPENG, SWARAINDEPENDEN.COM— Lampu-lampu Pasar Ramadhan “SUKSES 2026” akhirnya padam pada Selasa malam, 17 Maret 2026. Namun angka yang ditinggalkan masih menyala terang: Rp 3,2 miliar perputaran uang dalam 20 hari. Sebuah capaian yang langsung diposisikan sebagai bukti geliat ekonomi kerakyatan di Kabupaten Soppeng.
Penutupan dilakukan oleh Wakil Bupati Soppeng, Selle KS Dalle, didampingi unsur Forkopimda, mulai dari Kapolres hingga Dandim. Di atas panggung, narasi yang dibangun jelas: pasar ini bukan sekadar tempat jual beli, tetapi “ekosistem pembelajaran” bagi pelaku UMKM.
“Di sini mereka belajar produksi, pemasaran, hingga menghadapi konsumen. Ini proses yang sangat berharga,” ujar Selle dalam sambutannya.
Pernyataan itu tidak sepenuhnya keliru. Di lapangan, ratusan pelaku usaha kecil memang mendapat ruang yang jarang tersedia dalam keseharian. Produk lokal, dari kuliner hingga kerajinan, menemukan panggungnya. Antusiasme warga pun tinggi, terutama menjelang waktu berbuka.
Namun, di balik angka Rp 3,2 miliar yang terdengar impresif, ada sejumlah pertanyaan yang layak diajukan.
Pertama, bagaimana distribusi keuntungan itu? Apakah merata ke pelaku UMKM kecil, atau justru terpusat pada segelintir tenant yang sudah mapan? Data agregat sering kali menyembunyikan ketimpangan yang terjadi di tingkat bawah.
Ketua panitia, Agus Copli, menyebut angka tersebut bahkan belum mencakup dua hari terakhir menjelang penutupan, indikasi bahwa lonjakan transaksi terjadi di fase puncak. Ia juga menegaskan bahwa UMKM lokal sebenarnya “kuat”, hanya butuh ruang.
Keterlibatan PT Lamataesso Mattappa sebagai Perseroda juga menjadi catatan tersendiri. Plt Direktur Musdar Asman menyebut partisipasi ini sebagai langkah awal memperkuat ekonomi lokal. Namun, sejauh mana peran BUMD ini akan berlanjut setelah event berakhir, masih menjadi tanda tanya.
Pasar Ramadhan kerap menjadi “booster instan”, mengangkat omzet dalam waktu singkat. Tapi tantangan sesungguhnya justru datang setelah tenda-tenda dibongkar, apakah pelaku usaha tetap bertahan? Apakah ada pendampingan lanjutan? Atau geliat ini hanya musiman, muncul tiap Ramadhan lalu meredup kembali?
Fakta bahwa persiapan kegiatan ini hanya dua pekan namun mampu menghasilkan perputaran miliaran rupiah memang patut diapresiasi. Tetapi keberhasilan cepat juga sering kali menyisakan pekerjaan rumah yang tak kecil, terutama dalam hal keberlanjutan dan pemerataan manfaat.
Pemerintah Kabupaten Soppeng telah menyatakan komitmennya untuk menjadikan kegiatan ini sebagai agenda rutin. Rencana pengemasan yang lebih terstruktur pun sudah digaungkan.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Pasar Ramadhan ini sukses, angka sudah menjawab itu. Melainkan, apakah keberhasilan ini bisa ditransformasikan menjadi sistem ekonomi lokal yang lebih adil dan berkelanjutan.
Karena tanpa itu, Rp 3,2 miliar mungkin hanya akan menjadi angka yang berulang setiap tahun, besar, mengesankan, tapi belum tentu mengubah banyak hal di akar rumput.*
(AgusIskandar)

0 Komentar