![]() |
| Ketua DPC Partai Gerindra Dra Hj Henny Latif bersama jajarannya saat berbagi Baju Koko dan Mukenah di Jalan Kemakmuran, Selasa (17/3/2026) kemaron. ( Foto: Ist/SWIN) |
SOPPENG, SWARAINDEPENDEN.COM— Nama Henny Latif kembali muncul di ruang publik. Bukan dalam forum resmi parlemen, melainkan di tepi jalan, di depan kantor partai yang dulu menjadi salah satu pijakan karier politiknya.
Selasa sore, 17 Maret 2026, di Jalan Kemakmuran, Kecamatan Lalabata, ratusan baju koko dan mukena dibagikan kepada para pengendara yang melintas. Kegiatan itu digelar bersama jajaran DPC Partai Gerindra Kabupaten Soppeng, dalam suasana Ramadhan yang memang kerap menjadi panggung paling ramai bagi aktivitas sosial, dan tak jarang, juga simbolik politik.
Henny, yang telah dua periode duduk di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, kini tak lagi memiliki jabatan formal. Namun, absennya posisi struktural itu tampaknya tidak serta-merta menghilangkan kehadirannya di tengah masyarakat. Ia justru memilih tetap aktif lewat kegiatan berbagi yang rutin digelar, terutama menjelang Idul Fitri.
“Jabatan mungkin saja berakhir, tetapi rasa kepedulian kepada sesama tidak akan pernah pudar,” ujar politisi bernama lengkap Dra Hj Henny Latief ini kepada wartawan.
Pernyataan itu terdengar normatif. Namun di baliknya, ada realitas yang lebih kompleks: politik lokal di daerah seperti Soppeng tak pernah benar-benar berhenti pada periode jabatan. Ia terus hidup melalui relasi sosial, jaringan, dan tentu saja, gestur kepedulian yang terlihat langsung oleh masyarakat.
Kegiatan berbagi mukena dan baju koko ini bukan yang pertama. Ia telah menjadi semacam tradisi tahunan. Dalam narasi yang dibangun, ini adalah bentuk “gerakan swadaya”, sebuah upaya mandiri untuk tetap berkontribusi tanpa harus menunggu mandat kekuasaan.
Namun, di sisi lain, publik juga tak bisa menutup mata bahwa aktivitas semacam ini sering kali berada di wilayah abu-abu antara kepedulian sosial dan konsolidasi pengaruh. Apalagi ketika dilakukan oleh figur politik yang masih aktif memimpin struktur partai.
Di lapangan, suasana terlihat cair. Henny menyapa satu per satu penerima bantuan, berbincang singkat, dan menyelipkan doa agar mereka bisa merayakan Lebaran dengan lebih layak. Interaksi personal semacam ini menjadi kekuatan tersendiri, sesuatu yang tak selalu bisa digantikan oleh program formal pemerintah.
Selepas kegiatan, acara berlanjut dengan buka puasa bersama pengurus dan kader partai di kantor DPC. Sebuah penutup yang sederhana, namun cukup untuk menegaskan bahwa mesin organisasi tetap berjalan, bahkan di luar musim politik elektoral.
Pertanyaannya kemudian: apakah ini murni aksi sosial, atau bagian dari ritme panjang politik yang tak pernah benar-benar padam?
Di Soppeng, seperti di banyak daerah lain, jawabannya mungkin bukan “ya” atau “tidak”, melainkan kombinasi keduanya. Karena di titik tertentu, kepedulian dan kepentingan sering kali berjalan beriringan, tanpa garis batas yang benar-benar tegas.*
(AgusIskandar)


0 Komentar