SOPPENG, SWARAINDEPENDEN.COM-- Langit Soppeng seakan berduka pada Senin, 27 April 2026. Seorang tokoh yang selama puluhan tahun menjadi peneduh, penengah, dan panutan masyarakat, Andi Akbar Singke, yang akrab disapa Pung Cambang, mengembuskan napas terakhirnya pada pukul 11.50 WITA di RSUD Latemmamala Soppeng setelah menjalani perawatan intensif selama sepekan.
Keesokan harinya, Selasa (28/4/2026), lautan manusia mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir di Appalaringnge, Cangadi, Kabupaten Soppeng. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang individu, melainkan hilangnya sosok pemersatu yang telah lama menjadi sandaran masyarakat.
Andi Akbar Singke, lahir 72 tahun yang lalu di Makassar, tepatnya 31 Desember 1954 dan menapaki kehidupan dari kalangan sederhana. Namun, perjalanan hidupnya membawanya menjadi figur yang disegani lintas golongan. Dalam dunia politik, ia pernah menjabat sebagai anggota DPRD Soppeng selama dua periode (1999–2004 dan 2004–2009), serta anggota DPRD Sulawesi Selatan periode 2014–2015 sebelum akhirnya mengundurkan diri pada 2015 menjelang Pilkada Soppeng, sebuah keputusan yang lahir dari prinsip, loyalitas, dan kuatnya ikatan persaudaraan.
Langkah politiknya bukan semata soal kekuasaan. Ia pernah berjuang bersama Partai Persatuan Pembangunan di bawah komando H. Andi Sanapati, bahkan berhasil mendongkrak suara partai tersebut secara signifikan. Pengaruhnya yang besar kemudian membuatnya dirangkul oleh Partai Golkar, hingga pada Pemilu 1999 ia menjadi salah satu peraih suara terbanyak, sekitar delapan ribu suara, sebuah capaian yang mencerminkan kuatnya kepercayaan masyarakat kepadanya.
Namun, kekuatan sejati almarhum bukan hanya di panggung politik. Ia dikenal sebagai tokoh kharismatik yang bijak dalam mengambil keputusan dan adil dalam bersikap, baik dalam kehidupan keluarga maupun dalam bermasyarakat. Dengan kehidupan keluarga besar, meninggalkan puluhan anak dari beberapa istri, ia tetap dikenal mampu berlaku adil dan menjaga keharmonisan. Istri-istrinya tetap rukun seperti mereka bersaudara.
Di tengah masyarakat, ia adalah penengah. Ketika konflik muncul, ia hadir sebagai jembatan. Bahkan dalam situasi yang berpotensi memicu demonstrasi, Pung Cambang sering kali turun langsung sebelum gejolak membesar, menyelesaikan persoalan dengan dialog dan kebijaksanaan, sehingga masyarakat tak perlu turun ke jalan.
Pengaruhnya melampaui politik. Ia aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan, serta menjadi pembina bagi banyak kalangan, termasuk dunia usaha dan konstruksi melalui perannya di organisasi profesi seperti GAPENSI. Tak sedikit orang yang meraih keberhasilan berkat bimbingan dan arahan beliau.
Bupati Soppeng, Suwardi Haseng, dalam sambutannya saat pelepasan jenazah menyampaikan duka mendalam. Ia menyebut almarhum sebagai sosok “tau malabo na mabessa” (santun, bijaksana, dan selalu menjadi panutan dalam kehidupan bermasyarakat, red).
Kepergian Andi Akbar Singke meninggalkan jejak panjang pengabdian. Ia bukan hanya seorang politisi, tetapi juga guru kehidupan, penyejuk di tengah konflik, dan simbol kebijaksanaan yang hidup di tengah masyarakatnya.
Kini, sosok itu telah tiada. Namun nilai, keteladanan, dan pengaruhnya akan tetap hidup, dalam ingatan masyarakat Soppeng, dalam kisah-kisah yang terus diceritakan, dan dalam jejak kebaikan yang telah ia tanamkan sepanjang hidupnya.
Selamat jalan, Pung Cambang. Namamu akan selalu dikenang.***
(AgusIskandar)

0 Komentar